Minggu, 10 Oktober 2010

YESUS TIDAK DISALIB


Islam dan Kristen adalah dua agama besar yang percaya dan sama-sama menghormati Yesus. Namun sudut pandang kedua agama besar ini berbeda dalam memberikan penilaian. Islam mengatakan bahwa Yesus hanyalah seorang Rasul. Sedang Kristen bersikeras mempertahankan keilahian-Nya. Mereka mengatakan bahwa Dia telah mati disalib untuk menebus dosa-dosa manusia yang percaya. Sementara disisi lain Islam berpendapat tidak seperti itu. Sudut pandang manakah yang benar?
Beberapa hari kemaren saya sempat tersenyum ketika membaca artikel yang ditulis oleh saudara Vivaldi pada link http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TM9EHRI29K50TB1NT. Dalam artikel itu beliau mencoba membuktikan fakta penyaliban Yesus. Untuk mendukung pendapat beliau, beliau mengutip beberapa ayat suci al-Qurân yang ditafsirkan menurut pemikiran beliau sendiri. Beliau mengutip terjemahan al-Qurân dalam bahasa Inggris oleh Yusuf Ali, Rashad Khalifa, Shakir, Sher Ali, Muhammad Asad dan Muhammad Ali yang juga ditafsirkan dalam kacamata beliau.
Kelihatannya beliau tidak menguasai Bahasa Arab. Sebab dalam tulisannya beliau tidak pernah sedikitpun membahas Tata Bahasa Arab. Padahal yang beliau kutip adalah ayat-ayat al-Qurân, sebuah kitab berbahasa Arab. Saya sarankan, untuk mendapatkan hujat yang kuat dari al-Qurân pahami dulu bahasa Arab sepenuhnya. Jangan semata-mata hanya mengandalkan terjemahan. Sebab antara text dan terjemahan tidak sepenuhnya sama.
Artikel saudara Vivaldi tersebut membuat hati saya terpanggil untuk membahasnya. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan cukup untuk menjawab serta meluruskan penyimpangan penafsiran ayat al-Qurân dari saudara Vivaldi tersebut.
Islam tidak meyakini Yesus disalib. Informasi ini jelas segala gamblang dinyatakan dalam al-Qurân, surat An-Nisa’ 4:157.

Dan Karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Berdasarkan ayat inilah Islam menyatakan sudut pandangnya bahwa ‘Isa (Yesus) tidak benar-benar disalib. Informasi dalam ayat ini cukup jelas, eksplisit dan tidak mendua arti. Saya heran kenapa tiba-tiba saudara Vivaldi mengatakan al-Qurân  menolak penyaliban Yesus dengan samar-samar, padahal ayat ini sudah begitu terang menyatakannya. Saudara Vivaldi sempat mengatakan ada pertentangan. Saya ingin bertanya, mana pertentangan itu…? Tidak ada dibagian manapun dalam al-Qurân  yang bertentangan dengan ayat ini.
Jika kita periksa, sebenarnya pertentangan pendapat hanya ada dibarisan para ulama. Bukan dalam al-Qurân. Para ulama memang berbeda pendapat dalam hal sejarah penyaliban. Berangkat dari perbedaan pendapat inilah saudara Vivaldi kelihatannya menyusun kekuatan untuk menghujat al-Qurân. Jika kita memperhatikan semua pendapat para ulama itu, seluruhnya akan bermuara pada surat An-Nisa’ 4:157 di atas. Mereka semua sepakat mengatakan bahwa Yesus tidak disalib.
Sejarah penyaliban itu telah terjadi ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad saw lahir. Dan para ulama mengeluarkan pendapat jauh setelah kewafatan-Nya. Jadi dalam kurun waktu selama itu wajar-wajar saja banyak terdapat pertentangan pendadat. Coba kita perhatikan sejarah supersemar. Peristiwa itu baru terjadi beberapa tahun lalu dan sekarang sejarahnya sudah banyak yang simpang siur. Apalagi peristiwa yang telah terjadi ribuan tahun silam. Jadi wajar-wajar saja banyak perdapat yang berbeda.
Saudara Vivaldi tidak seharusnya menyinggung perbedaan pendapat ini. Sebab ummat Kristen sendiri pun sebenarnya secara keseluruhan tidak memiliki sudut pandang yang sama. Diantara mereka juga terdapat perbedaan pendapat. Kecuali jika memang mereka semua sepakat mengatakan Yesus mati di tiang salib asli tanpa rekayasa. Wajar beliau menyinggungnya. Cuma kenyataannya tidak seperti itu. Menurut tulisannya, beliau juga sebenarnya mengakui adanya perbedaan pendapat diantara mereka.
Dalam artikelnya, saudara Vivaldi menuliskan bahwa, katanya banyak ulama-ulama Islam yang mengarang-ngarang cerita berkaitan masalah sejarah penyaliban. Tuduhan itu memang pada khususnya beliau tujukan pada golongan Ahmadiyah. Namun walau demikian, tentu imbasnya akan mengenai seluruh ummat Islam. Justru itu rasanya pemikiran-pemikiran para ulama Islam perlu diperjelas.
Ulama-ulama Islam mengeluarkan pendapat sebenarnya bukan tanpa dasar. Apabila kita periksa pendapat mereka, jelas terdapat ada persamaan dengan apa yang tertulis di buku-buku kuno yang disusun sebelum masa Nabi Muhammad saw. Contohnya, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang disalib sebagai pengganti Yesus adalah Yudas Iskariot. Pendapat ini sesuai dengan apa yang tertulis di dalam injil Barnabas yang disusun pada abad ke-2 M. Periksa Barnabas: 215-218.
Pendapat-pendapat ulama lain pun ada persamaan dengan kitab-kitab yang telah disusun sebelum abad ke-5 M. Seperti Injil 2 kitab Jeus yang disusun pada abad ke-3, Injil Wahyu Petrus yang disusun abad ke-4, Injil Risalah kedua Set Agung yang disusun pada abad ke-2 dan Injil Perbuatan-Perbuatan Yohanes yang juga disusun pada abad ke-2 M. Periksa juga gulungan kitab Najah Hamadi.
Tulisan kitab-kitab di atas membuktikan bahwa sebelum abad ke-5 sejarah penyaliban Yesus telah hadir dalam berbagai versi. Orang-orang yang hidup pada masa itu sudah memiliki pandangan yang berbeda. Ketika Nabi Muhammad saw menyebarkan ajaran agama Islam pada abad ke-6, banyak diantara orang-orang Yahudi dan Nasrani mengikuti. Cerita-cerita yang mereka ketahui sebelumnya masing-masing mereka bawa kedalam Islam. Dari sanalah para ulama Islam mengutip pendapat. Dikarnakan mereka yang masuk Islam ini memiliki pandangan yang tidak sama, maka itu menjadi penyebab berbedanya pendapat ulama-ulama Islam. Jadi para ulama Islam itu tidak mengarang-ngarang cerita.
Masalah pandangan Ahmadiyah saya tidak ingin membahasnya. Sebab mereka itu adalah golongan yang tidak diakui dalam Islam.  Syeikh Ahmad Deedat sebenarnya tidak mempopulerkan pendapat mereka seperti yang dituduhkan oleh saudara Vivaldi. Tapi dia mempopulerkan apa kata al-Kitab. Insya Allah nanti akan saya bahas pada blog lain.
Saudara Vivaldi dalam artikelnya memberi tuduhan bahwa al-Qurân adalah wahyu Muhammad saw yang didapat dari dengar-dengaran dari kiri kanan sehingga menghasilkan cerita yang tidak lengkap dan membingungkan. Sebenarnya bila kita ungkap lembaran sejarah, tuduhan itu pantasnya ditimpakan kepada al-Kitab ummat Kristen bukan kepada al-Qurân. Sebab al-Kitab perjanjian baru seperti yang kita tau ditulis jauh setelah Yesus diangkat. Saudara Vivaldi sendiri mengakui, Injil Matius ditulis tahun 60 masehi, Markus tahun 55-65, dan Lukas tahun 60-63. Semua injil itu ditulis jauh setelah Yesus tidak ada dibumi ini lagi. Mereka menulisnya berdasarkan ingatan dan dengar-dengar dari kiri kanan.
Bagaimana dengan al-Qurân? Seluruh al-Qurân sudah ada dan lengkap sebelum Nabi agung Muhammad saw wafat. Saat al-Qurân turun ayat demi ayat langsung ditulis dan dihafalkan oleh para sahabat atas bimbingan Nabi Muhammad sendiri. Kebiasaan menghafal al-Qurân sejak itu sudah memasyarakat di kalangan kaum muslimin sampai sekarang. Jutaan ummat Islam yang hafal seluruh al-Qurân sampai saat ini. Lalu bagaimana dengan ummat Kristen? Sepanjang sejarah, belum ada satu orang pun ummat Kristen yang dapat menghafal kitab Injil.
Jika memang saudara Vivaldi tidak meyakini al-Qurân dari Tuhan, saya ingin menantang beliau dengan tantangan al-Qurân itu sendiri. Al-Qurân didalam surat al-Baqarah 2:23 mengatakan.

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Monggo Mas ……………
Saudara Vivaldi mengatakan al-Qurân tidak lengkap karena tidak menuliskan sejarah penyaliban. Sebab itu al-Qurân tidak terperinci. Sepertinya ucapan beliau terlewat. Apa Injil lengkap dan terperinci? Kalau iya, tolong tunjukkan sejarah kehidupan Yesus mulai dari lahir sampai diangkat kesorga. Terutama ketika dia berumur 12-30 tahun. Dimana dia dan apa yang dia lakukan? Sebab dalam Injil saya hanya menjumpai sebagian dari sejarah hidupnya. Saat lahir dan ketika berumur 1-2 tahun, Injil Matius bab 1 dan 2 juga dalam Injil Lukas pada bab yang sama. Dalam Lukas 2:41-52 juga diceritakan sejarah ketika dia berumur 12 tahun. Setelah itu raib entah kemana. Kemudian pada Lukas 3:23 baru kembali muncul. Dan ketika itu dia sudah berumur 30 tahun. Kemana dia selama kurun waktu 18 tahun dan apa yang dia lakukan? Berarti Injil juga tidak lengkap dan tidak terperinci menulis sejarah hidup Yesus. Bayangkan tokoh utama di dalam novel al-Kitab perjanjian baru tiba-tiba hilang. Tapi tenang saja, kalau orang Kristen tidak tau dia kemana, nanti pada blog lain akan saya kasih tau.
Tidak tertulisnya sejarah penyaliban di dalam al-Qurân tidak berarti al-Qurân itu tidak lengkap dan tidak terperinci. Ingat, al-Qurân bukanlah buku novel yang dapat menceritakan sejarah hidup seseorang secara lengkap. An-Nisa’ 4:157 itu bukan menceritakan masalah penyaliban, tapi hanya sekedar memberi informasi bahwa Yesus tidak disalib. Mungkin ada yang bertanya, kenapa al-Qurân hanya memberi informasi bukan menceritakan?
Kita semua tau, manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kita diberi otak, tenaga, kekuatan dll. Tuhan selaku penguasa tidak ingin hamba-Nya menjadi pemalas dan manja sehingga makan pun harus disuapi. Dia sudah memberi informasi secara lengkap bahwa Yesus tidak disalib. Maka manusia yang sudah diberi otak, tenaga dan pikiran itu harus berusaha mencari tau apa sebenarnya yang telah terjadi.
Jika saya seorang dosen, saya tidak harus memberitau mahasiswa saya tentang huruf-huruf apa yang mesti mereka tulis dalam makalah mereka. Saya sudah memberi mereka judul, maka untuk menyelesaikan makalah itu mereka harus berusaha mencari berita dari berbagai sumber yang mereka anggap otentik.
Jadi jika al-Qurân tidak menceritakan sejarah penyaliban secara lengkap, tidak berarti al-Qurân tidak terperinci. Saya terpaksa menyanggah tulisan saudara Vivaldi saat beliau menyinggung al-Qurân surat al-An’am 6:114. Katanya ayat itu bermasalah karena mengatakan al-Qurân terperinci. Sementara dalam pandangan beliau tidak demikian. Saya ingin memberi sebuah logika sederhana. Misalnya, jika saya seorang bendahara di satu organisasi. Dalam sebuah pertemuan yang diadakan dengan seluruh anggota saya disuruh menginformasikan rincian keuangan organisasi dengan lengkap. Pada gilirannya saya pun maju. Ketika membicarakan keadaan uang keluar saya mengatakan, pada tgl 1 April 2010 kas dikeluarkan untuk membeli buku demi melengkapi perpustakaan. Saya hanya menginformasikan itu. Saya tidak memberitau bagaimana proses pembelian itu dilaksanakan. Ke toko buku mana saya pergi, dengan kenderaan apa, siapa teman saya, tidak ada penjelasan. Apa itu berarti saya tidak terperinci dalam memberi penjelasan? Tidak… saya tetap dikatakan terperinci.
Sdr Vivaldi mengutip ayat al-Qurân surat al-Maidah 5:116-117 untuk menguatkan argumennya tentang Yesus telah mati. Beliau mengutip terjemahan al-Qurân dalam Bahasa Ingris oleh Yusuf Ali, Rashad Khalifa dll. Dan beliau mempermasalahkan Past Tense. Saya sudah katakan sebelumnya, seharusnya untuk bisa memahami al-Qurân pelajari dulu Bahasa Arab dengan tuntas. Saya tidak mengatakan terjemahan Yusuf Ali dll salah. Insya Allah mereka semua benar. Yang salah adalah saudara Vivaldi sendiri dalam memahami. Selengkapnya ayat tersebut berbunyi:

Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.

Yang menjadi acuan bagi saudara Vivaldi untuk memperkuat argumennya adalah kalimat, ﻓَﻠَﻤﱡﺎ ﺗَﻮَﻓَّﻴْﺘَﻨِﻰ (Maka setelah Engkau Wafatkan aku) yang terdapat pada pertengahan ayat 117. Kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ sesuai terjemahan Bahasa Ingris oleh Yusuf Ali dll ditulis dalam bentuk Past Tense. Karena itu saudara Vivaldi menyimpulkan saat ini Yesus telah meninggal.
Sepertinya saudara Vivaldi belum memahami latar belakang ayat ini. Surat al-Maidah 5:116-117 di atas adalah dialog antara Allah dan Yesus pada hari kiamat. Dalam dialog itu Yesus mangatakan, maka setelah Engkau Wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Disini Yesus menyatakan bahwa dia telah mati.  Ya, itu memang benar. Kenapa…? Karena dialog itu akan terjadi nanti pada hari kiamat dan ketika itu Yesus memang telah mati.
 Kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ  sebenarnya dapat juga diartikan dengan mengambil. Periksa kamus Arab-Indonesia karya Prof. DR. H. Mahmud Yunus, 1989. Para ulama Islam banyak yang menafsirkan dengan kata ini. Sehingga mereka berpendapat bahwa ucapan Yesus pada pertengahan surat al-Maidah 5:117 diatas bukan menyatakan kewafatan, namun justru pengangkatannya. Sebab terjemahan ayat itu paling tepat, Maka setelah Engkau mengambil aku. Mengambil artinya mengangkat, bukan mewafatkan.
Saya dengar saudara Vivaldi tidak setuju dengan terjemahan ini. Beliau tetap bersikeras mengatakan bahwa arti ﺗَﻮَﻓﱡﻰ  adalah wafat atau meninggal. Sampai-sampai beliau dalam tulisannya mengemukakan referensi dari kamus Bahasa Indonesia W.I.S. Poerwadarminta BPK, 1976. Kalau memang beliau tetap menginginkan demikian tidak masalah, tetap ada penjelasan untuk itu.
Jika kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ diartikan dengan wafat, itu berarti kematian Yesus setelah kedatangannya yang kedua. Dalam hal ini saudara Vivaldi mengangkat dua point permasalahan.
1.      Jika Isa belum pernah wafat, berarti Allah belum mengawasi “mereka” (Murid-murid langsung Isa)
2.      Jika Isa akan wafat setelah kedatangannya yang kedua kali, saat itu “mereka” (murid-murid langsung Isa) sudah ribuan tahun wafat. Jadi siapa yang akan “diawasi” oleh Allah SWT?
Di dalam surat al-Maidah 5:116 dikatakan: Hai ‘Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada “manusia”. Kata yang digunakan disana adalah ﻟِﻠﻨﱡﺎﺱِ yang berarti “manusia”. Allah tidak mengatakan, Hai ‘Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada “12 orang muridmu”. Perhatikan, Allah tidak katakan itu. Allah mengatakan manusia, itu berarti kepada seluruh manusia khususnya yang menganggap dia dan ibunya sebagai Tuhan. Termasuk orang-orang Kristen sekarang. Yesus tidak pernah mengatakan dia Tuhan. Baik dalam al-Qurân maupun dalam al-Kitab orang Kristen sendiri. Silahkan buka al-Kitab yang berjumlah 66 buku itu. Temukan apakah ada disana tertulis pernyataan dari Yesus sendiri yang mangatakan dia Tuhan atau yang menyuruh untuk menyembah dia?
Apabila diperiksa injil Yohanes 14:28 disana dia mengatakan, Bapa lebih besar dari aku. Pada bab 10:29 dia katakan, Bapaku lebih besar dari siapa pun. Dalam injil Matius 12:28 dia katakan, Aku mengusir setan dengan kuasa roh Allah. Pada injil Lukas 11:20 dia katakan, aku mengusir setan dengan kuasa Allah. Selanjutnya dalam Injil Yohanes 5:30 dia katakan, Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri, aku menghakimi sesuatu dengan apa yang aku dengar dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak dia yang mengutus aku.
Tidakkah pernyataan itu sudah cukup menjadi bukti bahwa dia hanya orang biasa seperti kita. Ada apa dengan kalian duhai orang-orang Nasrani…? Kenapa kalian membuat semua orang heran dengan kalian…? Yesus menyuruh untuk menyembah Allah tapi kalian justru menyembah dia. Yesus mengatakan bahwa dia tidak mampu melakukan apapun sendirian tapi kalian menganggapnya mampu. Yesus mengatakan tidak tau, tapi kalian menganggapnya tau. Ada apa dengan kalian duhai orang-orang yang berpendidikan…? Tidakkah kalian sadar bahwa pemikiran kalian itu bertentangan dengan isi kitab suci kalian sendiri….?
Kembali pada saudara Vivaldi. Maksud kata ﻟِﻠﻨﱡﺎﺱِ (manusia) yang ada pada surat al-Maidah 5:116 di atas ditujukan kepada seluruh manusia khususnya yang menganggap Yesus dan ibunya Tuhan. Kata ini bukan ditujukan hanya kepada murid-murid Yesus. Sementara al-Qurân surat al-Maidah 5:117, ….adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka… Ini maksudnya, pada kedatangan Yesus yang kedua nanti dia akan menjadi saksi bagi siapa pun yang menganggap dia dan ibunya sebagai Tuhan. Dia akan bilang bahwa mereka tidak akan pernah mendapat surga dengan berpegang kepada kepercayaan itu.
Kesaksian dia ini juga ada dijelaskan didalam Injil Matius 7:21-23. 21Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Perhatikan 3 ayat Injil Matius bab 7 di atas. Siapa kira-kira orang yang dimaksudkan Yesus...? Jawabannya jelas orang-orang Kristen. Merekalah yang dimaksud oleh Yesus pada ayat itu. Sebab, yang berseru kepada dia dengan sapaan Tuhan cuma mereka. Yang bernubuat demi nama dia juga mereka. Yang mengusir setan demi nama dia juga mereka dan yang mengadakan banyak mukjizat demi nama dia juga mereka. Jadi jelas, orang yang dimaksud oleh Yesus dalam Matius 7:21-23 diatas adalah orang-orang Kristen. Kemudian pada ayat 23 Yesus mengusir mereka. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.
Jadi pada kedatangannya yang kedua Yesus akan datang menjadi saksi. Dan setelah kedatangan itu, mereka semua yang keliru akan kembali kejalan yang benar. Dan selama dia masih bersama mereka, dia akan tetap mengawasi mereka. Setelah dia meninggal maka yang akan mengawasi mereka adalah Allah.
Kemudian saudara Vivaldi bertanya, kalau begitu sekarang Allah belum mengawasi mereka…? Jawabannya sudah diberikan pada akhir ayat 117 di atas. Allah maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jadi saudara Vivaldi tidak perlu khawatir, Allah akan tetap mengawasi anda dan teman-teman anda yang lain, juga akan mengawasi segala ciptaan-Nya kapan pun waktunya.
Untuk mengukuhkan jawaban saya pada pertanyaan pertama saudara Vivaldi, saya ingin membuat sebuah contoh. Menjelang kematian seorang pria berpesan kepada istrinya, “Istriku, setelah aku wafat nanti, kamulah yang akan mengawasi anak-anak kita”. Bagaimana menurut anda tentang cerita itu…? Apa selama ini istri orang tersebut tidak mengawasi anak-anak mereka…? Tentu tidak. Walaupun sang suami berkata demikian tidak berarti selama ini istrinya tidak mengawasi anak-anak mereka.
Selanjutnya saudara Vivaldi bertanya, Kenapa Allah swt bertanya kepada Isa tentang apa yang pernah/ tidak pernah dikatakan oleh Isa? Apakah Allah swt lupa bahwa Isa memang tidak pernah mengatakan demikian?
Allah maha suci dari segala sifat kekurangan. Allah bertanya bukan karena dia lupa atau tidak tau. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, surat al-Maidah 5:116-117 di atas adalah dialog antara Allah swt dengan Nabi Isa as di hari kiamat. Ketika itu semua orang yang pernah mempertuhankan dia dan ibunya akan berkumpul disana. Saat itulah Allah bertanya kepadanya seperti dalam surat al-Maidah 5:116 diatas. Lalu dia pun memberi jawaban bahwa dia tidak pernah mengatakan demikian. Tujuan pertanyaan itu diberikan agar Yesus dapat menyatakan sendiri secara langsung di hadapan mereka bahwa dia tidak pernah memproglamirkan dirinya dan ibunya menjadi dua orang Tuhan selain Allah. Jadi Allah bertanya bukan karena lupa atau tidak tau, tapi agar penjelasan keluar dari bibir Yesus sendiri di hadapan mereka. Jadi kesimpulannya, pertanyaan itu adalah untuk orang ketiga yang tidak tau apa-apa.
Seterusnya tentang al-Qurân surat Ali Imran 3:55. Yang menjadi acuan bagi saudara Vivaldi dalam ayat ini juga dalam kalimat ﺗَﻮَﻓﱡﻰ. Seperti pembahasan sebelumnya, kata ﺗَﻮَﻓﱡﻰ dapat juga diterjemahkan dengan mengambil. Jadi pada ayat ini Allah mengatakan bahwa ‘Isa akan Dia ambil dan Dia angkat serta Dia bersihkan dari orang-orang kafir. Jelas tidak ada masalah dengan ayat ini.
Namun jika saudara Vivaldi masih ingin tetap memaksakan kata itu harus diterjemahkan dengan “wafat”, tidak masalah. Saya akan beri penjelasan untuk itu. Tapi jika kurang puas, maka beliau harus kembali pada penjelasan pertama saya di atas.
Kata yang menjadi pembatas antara ﻣُﺘَﻮَﻓِّﻴْﻚَ dan ﺭَﺍﻓِﻌُﻚَ dalam ayat di atas adalah ﻭَ bukan ﺛُﻢﱠ (kemudian). Kata ﻭَ punya lima arti yaitu, Dan, serta, sedang, padahal dan demi. Jadi pada ayat diatas akan diterjemahkan, sesungguhnya Aku (Allah) akan mewafatkanmu dan mengangkatmu. Karena kalimat disana dibatasi dengan kata dan bukan kemudian, maka tidak ada indikasi wajib bahwa Isa diwafatkan dulu baru diangkat. Dalam ayat itu bisa saja diambil makna bahwa Isa diangkat oleh Allah trus kemudian pada saat masanya tiba, yaitu pada kedatangannya yang kedua dia diwafatkan. Sama halnya jika saya berkata, saya makan ikan dan menggulainya.  Kalimat ini tidak wajib menunjukkan saya makan ikan dulu baru saya gulai. Tapi bisa saja saya gulai dulu baru saya makan. Itu lebih memungkinkan.
Saya harap saya sudah menjawab semua penafsiran yang salah dari saudara Vivaldi terhadap al-Qurân dalam hal penyaliban. Alhamdulillah tidak ada masalah. Semua isi al-Qurân benar dan tidak sedikitpun terdapat kekeliruan.
Juga masih dalam kaitan penyaliban, saudara Vivaldi mengutip ayat-ayat dari Injil Barnabas. Buat saya pribadi, sebenarnya Injil Barnabas itu jauh lebih bagus dan lebih bisa dipertanggung jawabkan dari pada al-Kitab yang dipakai ummat Kristen sekarang. Entah kenapa mereka menolaknya. Padahalkan sama-sama Injil.
Saudara Vivaldi sepertinya menganggap cerita dalam Injil Barnabas itu tidak dapat diterima akal. Berikut isi Injil Barnabas yang dianggap tidak masuk akal itu. (Dicopy Paste dari tulisan saudara Vivaldi)
Sekarang kita lihat apa yang diceritakan oleh “Injil”Barnabas tentang penyaliban Yesus dan silahkan menilai sendiri apakah ceritanya masuk akal atau tidak.
Sumber : Injil Barnabas Chapter 216
Judas entered impetuously before all into the chamber whence Jesus had been taken up. And the disciples were sleeping. Whereupon the wonderful God acted wonderfully, insomuch that Judas was so changed in speech and in face to be like Jesus
Judas mendahului semuanya memasuki ruangan dimana Yesus telah diangkat. Dan semua murid sedang tertidur. Kemudian Allah melakuknan mujizat dimana wajah dan cara berbicara Yudas berubah menjadi seperti Yesus. Kisah berlanjut dimana Yudas dalam wujud Yesus berteriak-teriak kalau dia bukan Yesus malainkan Yudas saat diperiksa oleh imam-imam Yahudi.
Sumber : Ibid Chapter 217
Judas answered:'I have told you that I am Judas Iscariot, who promised to give into your hands Jesus the Nazarene; and you, by what are I know not, are beside yourselves, for you will have it by every means that I am Jesus.' The high priest answered …..
Yudas menjawab, “aku telah memberitahumu bahwa aku adalah Yudas Iskariot, yang menjanjikan akan menyerahkan Yesus dari Nazaret, dan oleh sebab yang aku tidak ketahui, selain kamu ketahui sendiri, kamu telah menuduh bahwa aku adalah Yesus” Imam tertinggi menjawab….
Yudas dalam wujud Yesus masih terus menangis-nangis saat digiring dan disalibkan di Kalvari
Sumber : Ibid Chapter 217
So they led him to Mount Calvary, where they used to hang malefactors, and there they crucified him naked; for the greater ignominy. *Judas truly did nothing else but cry out:'God, why have you forsaken me, seeing the malefactor has escaped and I die unjustly?'
Sungguh aku berkata bahwa suara, wajah dan tubuh Yudas sungguh mirip Yesus, sehingga seluruh pengikut-pengikutnya mempercayai dialah Yesus ….. Dan juga mereka yang menemani ibu Yesus datang ke Kalvari, tidak hanya hadir saat kematian Yudas, Namun terus menerus menangis.
Sulit dibayangkan bahwa “Yesus Yudas” yang teriak-teriak dan menangis sambil menyangkal dia adalah Yesus dihadapan umum masih dijadikan panutan oleh pengikut-pengikutnya. Bahkan pengikut-pengikutnya masih mau meninggal demi nama “Yesus Yudas” yang menangis-nangis saat mau disalibkan. Benar-benar lelucon ala muslim.
Kutipan Injil Barnabas diatas sepertinya tidak ada yang tidak masuk akal. Semuanya dapat diterima. Mana disana yang tidak mungkin…? Apakah karena Yudas berteriak-teriak dan menangis mengatakan bahwa dia bukan Yesus…? Itu hal yang wajar. Dia tau bahwa dia akan dihukum mati sebab Imam-Imam Yahudi menganggap dia adalah Yesus. Untuk menyangkal anggapan itu wajar dia berteriak. Ini tidak mustahil.
Manakah disana hal yang tidak mungkin. Apakah perobahan wajah dan cara bicara Yudas yang langsung identik dengan Yesus…? Itukah yang tidak mungkin…? Itu juga sebenarnya tidak mustahil, sebab semua terjadi karena mukjizat. Coba ingat kisah kelahiran Yesus. Atas izin Allah dia lahir dari rahim seorang wanita yang masih perawan. Al-Qurân dalam surat Ali Imran 3:45-47 dan Injil Lukas bab 1-2 menyebutkannya. Yesus bisa menghidupkan orang mati atas izin Allah, al-Qurân surat Ali Imran 3:49 dan Injil Lukas 7:12-15 menceritakannya. Kemudian Nabi Musa, atas Izin Allah juga tongkatnya bisa berobah menjadi ular. Periksa al-Qurân surat Asy Syu’ara 26:32 dan kitab Keluaran 4:3.
Jika Allah dapat membuat Yesus lahir dari rahim seorang wanita perawan, dapat membuat Yesus bisa menghidupkan orang mati dan dapat membuat tongkat Nabi Musa berobah menjadi ular. Lalu kenapa Allah tidak dapat merobah wajah dan suara Yudas menjadi sama persis dengan Yesus. Itu mungkin saja. Jadi karena saudara Vivaldi menyuruh untuk memberi penilaian pada Injil Barnabas, maka saya katakan bahwa apa yang tertulis dalam Barnabas itu dapat diterima akal. Sebab semua terjadi karena mukjizat.
Pada akhir tulisannya saudara Vivaldi memberikan 18 point yang sebagian besarnya menyinggung masalah Yesus. Saya akan bahas Insya Allah satu per satu. Namun sebelum itu saya ingin sedikit member komentar pada tulisan di awal artikel beliau. Disana beliau mengatakan, penyaliban adalah penebusan dosa-dosa manusia yang mau percaya, sementara kebangkitan adalah tanda bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa untuk mengalahkan maut.
Sepertinya kedua defenisi itu bermasalah. Tidak mungkin dosa seseorang dapat ditanggungkan pada orang lain. Setiap orang akan bertanggung jawab atas dosanya masing-masing. Hal ini diakui oleh al-Kitab ummat Kristen sendiri. Periksa Yehezkiel 18:20. Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan al-Qurân surat ar-Rum 30:44 dan surat al-Mukmin 40:28 bahwa setiap orang akan menanggung akibat dari kesalahannya masing-masing. Jika setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, lalu dosa siapa yang ditanggung oleh Yesus di tiang salib…? Masalah kebangkitan, katanya itu menjadi bukti bahwa Yesus punya kuasa untuk mengalahkan maut. Kalau dia mampu mengalahkan maut, mengapa dia harus mati…? Bukankah seharusnya maut itu yang akan tunggang langgang dia tendang begitu datang dihadapannya…? Tapi kata orang Kristen dia mati, berarti dia kalah. Kalau dia menang, dia tidak akan mati.
Saudara Vivaldi menyatakan 18 point. Katanya semua itu adalah petunjuk agar manusia dapat mencapai surga.

01.    ISA AS. ITU JALAN YANG LURUS SUPAYA DIIKUTI
"Dan sesungguhnya Isa itu benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat karena itu janganlah kamu ragu tentang hari kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus." "Wa innahu la'ilmul lis saa'ati fa laa tamtarunna bihaa wa tabi'uuni haadzaa shiraathum mustaqiim." (Qs. 43 Az Zukhruf 61)
Saudara Vivaldi salah anggapan pada kalimat “Ikutilah Aku” dalam ayat diatas. Kalimat itu bukanlah ucapan Isa (Yesus). Itu adalah bimbingan dari Allah kepada Nabi Muhammad agar beliau menyuruh orang-orang Quraisy mengikuti beliau. Sebab mengikuti beliau adalah jalan yang lurus.

02.    ISA AS. ITU PEMBAWA TERANG SUPAYA DITAATI
"Dan tatkala Isa datang membawa terang dia berkata sesungguhnya aku datang membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian yang apa kamu perselisihkan tentangnya, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaKu." "Wa lammaa jaa-a 'Isa bil bayyinaati qaala qad ji'tukum bil hikmati wali ubayina lakum ba'dhal ladzii tathtalifuuna fiihi fat taqullaaha wa athii'u." ( Qs. 43 Az Zukhruf 63)
Ada masalah dalam pemikiran orang-orang Kristen ketika menafsirkan kata mengikuti dan Menaati. Ketika dikataan bahwa Yesus harus ditaati atau diikuti mereka langsung mengklaim bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka salah persepsi dalam memahami kedua kata itu. Mengikuti dan menaati Yesus tidak berarti menuntut defenisi ketuhanannya. Coba perhatikan baik-baik sesuai konteks apa yang dikatakan Yesus kepada seseorang yang datang kepadanya. Tertulis dalam Matius 19:21
Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
Dalam ayat itu Yesus bilang Ikuti aku. Mengikuti Yesus itu berarti mengikuti segala apa yang dia katakan. Dia tidak menuntut agar orang menyembah dia. Jika diperhatikan pada ayat sebelumnya. Pada ayat 16-17 di kitab dan pasal yang sama. Disana dikatakan.
16Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 17Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."
Diakhir ayat 17 dia perintahkan untuk menuruti perintah Allah. Mengikuti dan menaati Yesus itu bebrarti mengikuti dan menaati apa yang dia katakan. Yesus mengatakan agar menuruti perintah Allah, maka itulah yang harus diikuti dan ditaati. Setiap Nabi selalu mengatakan kalimat itu kepada ummatnya. Musa bilang ikuti dan taati aku, Yesus bilang ikuti dan taati aku, Muhammad juga bilang ikuti dan taati aku. Apa itu berarti mereka semua memiliki defenisi ketuhanan…? Jawabannya tentu tidak. Jadi mengikuti dan menaati Yesus tidak berarti mengatakan dia Tuhan.

03.    ISA AS. MENGATAKAN PERKATAAN YANG BENAR
"Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya." "Dzaalika 'Isabnu Maryama qaulal haqqil ladzii fiihi yamtaruum." (Qs. 19 Maryam 34)
Saya sangat setuju dengan al-Qurân dan saudara Vivaldi bahwa Nabi Isa selalu mengatakan perkataan yang benar. Salah satu sifat yang wajib bagi Nabi adalah Siddiq “selalu berkata benar”

04.    ISA AS. ITU UTUSAN ALLAH DAN FIRMANNYA
"Sesungguhnya Isa Almasih putra Maryam itu utusan Allah dan firmanNya." "Inamal Masihu 'Isabnu Maryama rasulullahi wa kalimatuhu." (Qs. 4 An Nisa 171)

05.    ISA AS. ADALAH ROH ALLAH DAN KALIMATNYA
"Isa itu sesungguhnya Roh Allah dan firmanNya." "Isa faa innahu Rohullah wa kalimatuhu." (Hadits Anas bin Malik hal.72)

06.    ISA ADALAH ROH ALLAH YANG MENJELMA MENJADI MANUSIA YANG SEMPURNA
"...Kami mengutus Roh Kami kepadanya, maka ia menjelma dihadapannya menjadi manusia yang sempurna." "...arsalnaa ilaihaa ruuhanaa fa tamatstsala lahaa basyaran sawiyya." (Qs. 19 Maryam 17)
Saudara Vivaldi hanya menuliskan potongan ayat dari surat an-Nisa’ 4:171. Dia tidak mengutip ayat dengan utuh sehingga mengakibatkan orang-orang yang membaca jadi kehilangan konteks. Secara keseluruhan ayat tersebut berbunyi.
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya  yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
Pada awal ayat Allah berpesan kepada Ahli Kitab (Yaitu Ahli Kitab Injil), agar mereka jangan melampaui batas dalam beragama. Melampaui batas disini adalah terlalu berlebihan sehingga mereka ikut mengatakan ‘Isa itu Tuhan seperti halnya orang-orang Nasrani. Allah menyuruh mereka agar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta jangan mengatakan Tuhan itu tiga. Nabi ‘Isa hanyalah seorang Rasul yang diutus oleh Allah dan dia bukan bagian dari trinitas. Inilah pesan dari ayat tersebut diatas.
Orang-orang Kristen, ketika melihat kalimat Roh Allah dan Kalimat/Firman Allah dalam al-Qurân, mereka langsung menganggap keduanya sama  dan satu dengan Allah. Ini salah. Dari segi bahasa jika kita periksa, kedua kalimat itu (ﺭُﻭْﺡ ُﺍﷲ dan ﻛَﻠِﻤَﺘُﻪُ / ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﷲ) adalah susunan Mudhof dan Mudhofun Ilaih yang disederhanakan dengan istilah Idhofah. Menurut grammar Bahasa Arab didalam kalimat Idhofah memiliki tiga takdir yang disembunyikan. Yaitu, ﻟِ (kepemilikan), ﻣِﻦْ (dari) dan ﻓِﻰ (pada).
Pada dua kalimat Idhofah diatas (ﺭُﻭْﺡ ُﺍﷲ dan ﻛَﻠِﻤَﺔُ ﺍﷲ ) jika kita artika sesuai Tata Bahasa tentu harus ada salah satu takdir yang tiga. Bila kita memasukkan takdir ﻟِ maka kedua kalimat itu masing-masing akan berarti Ruh milik Allah dan Firman milik Allah. Yang dimiliki tentu tidak dapat dikatakan satu dengan pemiliknya. Jika saya katakan ﺑَﻴْﺖُﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻳْﻖِ (Rumah si Shodiq) dalam arti Rumah milik Shodiq. Apakah kita akan mengatakan rumah Shodiq itu satu dengan Shodiq..? Tentu tidak, rumah Shodiq beda dan Shodiq juga beda. Keduanya tidak bisa dikatakan satu. Demikian juga antara Ruh Allah dengan Allah dan Firman Allah dengan Allah. Tidak bisa dikatakan sama dan satu. Ruh Allah beda, kalimat Allah beda dan Allah juga beda.
Selanjutnya jika kedua kalimat diatas memakai takdir ﻣِﻦْ (dari). Maka kedua kalimat itu masing-masing akan berarti Ruh dari Allan dan Firman dari Allah. Ini dapat dimaksudkan bahwa Ruh dan Firman itu datangnya dari Allah. Itu benar, sebab kita semua tau bahwa semua makhluk itu datang dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Takdir ﻓِﻰ (pada) tidak bisa masuk kedalam dua kalimat diatas. Sebab takdir ini hanya untuk kata-kata tertentu dan jarang digunakan. Jadi berdasarkan Tata Bahasa Arab antara Ruh Allah, Firman Allah dan Allah tidak bisa dikatakan satu. Lagi pula tidak ada dibagian mana pun di dalam al-Qurân yang mangatakan bahwa Allah itu Ruh atau Firman. Jadi orang Kristen tidak punya alasan untuk mengatakan ketiganya satu. ِIsa dikatakan Ruh dan Kalimat/Firman Allah, itu karena beliau adalah seorang Nabi yang punya keistimewaan yaitu lahir tanpa ayah. Dia terjadi dengan kalimat Allah, yaitu kalimat ﻛُﻦْ (jadilah), maka dia pun terjadi atas izin Allah. Periksa surat Ali Imran 3:59 dan Yasin 36:82.
Apabila kita periksa al-Qurân secara keseluruhan, kata Ruh sebenarnya tidak cuma ditujukan kepada Isa (Yesus), tapi juga kepada yang lain. Seperti Jibril. Malaikat Jibril juga dikatakan Ruh Allah. Periksa surat Maryam 19:17. Saudara Vivaldi pada point keenamnya salah dalam menafsirkan kata Ruh pada ayat itu. Kalimat Ruh Kami pada ayat itu adalah Malaikat Jibril bukan Isa. Sedangkan Dhomir (kata ganti) “Nya” disana ditujukan kepada Maryam (Maria), ibunya Isa. Maksud ayat tersebut sebanarnya adalah, Maka Kami mengutus Malaikat Jibril kepada Maryam, maka Malaikat Jibril menjelma di hadapan Maryam menjadi manusia yang sempurna.
Periksa ayat itu dengan baik-baik. Jangan ambil sepotong-potong sehingga membuat anda kehilangan konteks. Setelah ayat itu ada dialog antara Maryam dengan Jibril. Disana Jibril memberitaukan akan kehamilan Maryam. Berarti ketika itu Isa belum ada. Periksa juga cerita ini dalam Injil Lukas 1:26-35. Jibril (Ruhul Qudus) juga dikatakan satu dengan Allah menurut ajaran Kristen. Seperti sebelumnya, mereka tidak punya alasan untuk memperkuat anggapan ini.
Kemudian kata Firman Allah. Ini juga tidak bisa disamakan dengan Allah. Firman Allah dengan Allah itu berbeda. Nabi Musa juga diberi gelar ﻛَﻠِﻴْﻢُﺍﷲ oleh Allah. ﻛَﻠِﻴْﻢُﺍﷲ juga berarti firman Allah. Saya mendengar orang-orang Kristen juga mengatakan al-Kitab itu Firman Allah/ Tuhan. Jika kalimat Firman Tuhan dapat disamakan dengan Tuhan, tentu al-Kitab juga bisa dinamakan Tuhan/ Allah.  Jika anda orang Kristen, anda melihat di toko-toko buku banyak menjual al-Kitab, tentu saya rasa anda akan mengatakan, “Oh, saat ini sudah banyak toko-toko buku yang menjual Tuhan”. Ketika anda di tengah jalan, anda melihat al-Kitab berserakan. Maka anda akan mengatakan bahwa Tuhan tercecer di jalanan.

07.    ISA AS. ADALAH SATU-SATUNYA IMAM MAHDI
"Tidak ada Imam Mahdi selain Isa putra Maryam." "Laa mahdia illa isabnu Maryama." (Hadits Ibnu Majah)
Selengkapnya hadits tersebut berbunyi sbb.
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rarulullah saw bersabda: Tidak bertambah urusan melainkan semakin sulit, dunia semakin rusak, manusia semakin bakhil dan tidaklah datang kiamat melainkan atas manusia yang paling jelek. Dan tidak ada al-Mahdi kecuali Isa bin Maryam. (HR. Ibnu Majah 2:1341 dan Hakim 4:441-442)
Hadits di atas juga digunakan oleh orang-orang anti Imam Mahdi untuk menolak kedatangan  Imam Mahdi. Saya ingin paparkan pandangan para ulama mengenai hadits ini.
Baihaqi, Hakim, al-Hafizd Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah 8:256, al-Qori dalam Mirqotul Mafatih 10:183 dan Ibnu Qoyyim dalam Manarul Munif 148 menyatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah). Di dalamnya terdapat Perawi bernama Muhammad bin Khalid Al-Jundi. Tentang pria ini menurut al-Hafizd Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzir 2:157 dan Abu Abdillah Al-Hakim orangnya majhul (tidak dikenal). Sedangkan al-Azdi berpendapat haditsnya mungkar. Dan menurut Adz-Dzahabi hadits di atas adalah kabar mungkar. Periksa Mizanul I’tidal 3:535.
Mengenai hadits ini juga As-Shighoti berpendapat Maudu’. Periksa buku as-Saukani dalam Fawalidul Majmu’ah 127. Dan seandainya pun hadits ini shoheh seperti kata Imam Ibnu Katsir itu tidak masalah. Saya setuju ‘Isa bin Maryam itu adalah Imam Mahdi. Dalam arti Imam Mahdi yang sempurna dan ma’sum seperti kata Abu Abdillah al-Qurtubi dalam At-Tazdkiroh Fi Ahwalil Mauta wa Unuril Akhirah hal. 817. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada Imam Mahdi yang lain sebelum dia. Andaikata ‘Isa itu Imam Mahdi itu tidak mengindikasikan bahwa dia Tuhan.

08.    ISA DILAHIRKAN BUKAN DARI BAPA INSANI, TETAPI DARI ROH ALLAH
"Ingatlah kisah seorang perempuan yang memelihara kehormatannya (Maryam) lalu Kami tiupkan kepadanya Roh Kami (Roh Allah) dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kuasa Allah) bagi semesta alam." "Wallati ahshanat farjahaa fa nafakhnaa fiihaa mir ruuhinaa Wa ja'alnaahaa wabnahaa ayatal lil'aalamiin." (Qs. 21 Al Anbiyaa 91)
Saya sudah jelaskan sebelumnya pengertian kalimat Ruh Allah.

09.    ISA AS. LAHIR, MATI DAN DIHIDUPKAN KEMBALI
"Dan sejahtera atasnya pada hari ia dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali." "Wa salaamu 'alayya yauma wulittu, wa yauma amuutu, wa yauma ub'atsu hayaa." (Qs.19 Maryam 33)
Hari dia dilahirkan (sebelum masehi), hari dia diwafatkan (pada kedatangannya yang kedua) dan hari dia dibangkitkan hidup kembali (pada hari kiamat). Kata ganti dalam ayat di atas adalah “Aku” (orang pertama) bukan dia (orang ketiga). Saudara Vivaldi melakukan kesalahan. Periksa lagi dengan baik. Tidak ada masalah dengan ayat ini.
Arti yang benar pada ayat di atas adalah:
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."

10.    ISA AS. MATI, DIANGKAT DAN PENGIKUTNYA DIATAS ORANG KAFIR
"Ingatlah tatkala Allah berfirman: Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkatmu kepadaKu, dan akan menyucikan engkau dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu diatas mereka yang kafir hingga hari kiamat." "Idz qaalallahu yaa Isa, innii mutawafika, wa raafi'uka ilayya, wa muthahhiruka minal ladzinaa kafaruu, wa jaa'ilul ladzina tabauka fauqal ladzina kafaruu ilaa yaumil qiyamati." (Qs.3 Ali Imran 55)
Sudah ada penjelasan tentang ayat ini sebelumnya.

11.    ISA AS. MENYEMBUHKAN ORANG BUTA SEJAK LAHIR.
"Dan Aku menyembuhkan orang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak, dan Aku sanggup menghidupkan orang mati dengan seizin Allah." "Wa' ubriul akmaha, wal abrasha, wa uhyil mautaa bi idznillah." (Qs. 3 Ali Imran 49)

12.    ISA AS. MENGHIDUPKAN ORANG MATI
“..dan diwaktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan izinKu,....“ “...wa idz tukhrijul mautaa biidzni.....” (Qs. 5 Al maa-idah 110)
Saya percaya bahwa ‘Isa bisa menyembuhkan orang buta dari kebutaannya dan menghidupkan orang mati. Tapi harus digaris bawahi, semua itu terjadi atas izin Allah. Periksa dengan baik kedua ayat di atas. Semua terjadi bukan karena kemampuan ‘Isa semata, melainkan atas izin dari Allah swt.

13.    ISA AS. DIBERI MUJIZAT DAN ROH KUDUS
"Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam, beberapa mujizat serta Kami perkuat Dia dengan Rohul Kudus." "Wa aatainaa 'isabna Maryama bayyinaati wa ayyadnaahu bi ruuhil qudusi." (Qs. 2 Al Baqarah 253)
Nabi Isa as diberikan oleh Allah beberapa mukjizat itu benar. Dia bisa menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit sopak, menghidupkan orang mati dan lain-lain. Musa juga diberikan mukjizat, tongkatnya bisa menjadi ular. Muhammad juga punya mukjizat, beliau bisa membelah bulan dan lain-lain. Semua mukjizat itu terjadi atas izin Allah dan sebagai bukti kenabian bagi mereka. Bukan karena mereka memiliki defenisi ketuhanan.
Nabi Isa diperkuat dengan Ruhul Qudus, itu juga benar. Ruhul Qudus dalam ayat diatas adalah malaikat Jibril. Bukan Ruh yang satu dengan Allah. Sebab Allah tidak membutukan Ruh untuk hidup.

14.    KAFIR ORANG YANG MENOLAK ISA AS
"Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zinah)." “Wa bi kufrihm wa qaulihim 'alaa maryama buhtaanan 'azhiimaa." (Qs. 4 An Nisaa' 156)
Kafir orang yang menolak Isa itu benar. Kami orang Muslim tidak pernah menolak Isa. Kami menghormati dan beriman kepadanya, tapi sebagai salah seorang Nabi dan Rasul Allah. Bukan sebagai Tuhan.

15.    ISA AS. AKAN DIIMANI OLEH SEMUA AHLI KITAB
"Dan tidak seorangpun dari ahli kitab melainkan akan beriman kepada Isa sebelum matinya, dan pada hari kiamat. Dia menjadi saksi terhadap mereka." " Wa im min ahli kitaabi illa la yu'minanna bihi qabla mautihiiwa yaumal qiyaamati yakuunu 'alahim syahidaa." (Qs. 4 An Nissa 159)
Ayat diatas benar. Pada kedatangan Yesus yang kedua nanti, semua Ahli Kitab yang hidup pada masa itu akan beriman kepadanya. Tapi bukan menganggap dia Tuhan.

16.    TIDAK MENURUT TAURAT DAN INJIL, MAKA TIDAK DIPANDANG BERAGAMA
"Katakanlah: Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran ajaran Taurat, Injil dan apa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." "Qul yaa ahlal kitaabi lastum 'alaa syai-in hattaa tukimut tauraata wal injiila wa maa unzila ilaikum mir rabbkum." (Qs. 5 Al Maa-idah 68)
Taurat dan Injil yang tergabung di dalam al-Kitab orang Kristen sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang diimani oleh orang Islam. Orang Islam hanya beriman terhadap Taurat dan Injil asli yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Isa. Sementara saat ini kitab asli itu sudah tidak ditemui lagi. Taurat dan Injil yang ada dalam al-Kitab ummat Kristen sekarang tidak dapat lagi dijamin kebenarannya seratus persen. Ada banyak bukti untuk itu. Banyak kesalahan yang terdapat di dalamnya. Baik kesalahan matematis, kesalahan ilmiah, pertentangan antara ayat dengan ayat dan lain-lain. Tentunya di dalam Taurat dan Injil yang asli dulu tidak mungkin ada kesalahan seperti itu.
Saya akan memberikan buktinya. Di dalam perjanjian lama, 2 Tawarikh 21:20 disebutkan.
Ia berumur tiga puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan delapan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Raja Yoram berumur 32 tahun saat dia menjadi raja. Dia memerintah di Yerusalem selama 8 tahun lalu dia meninggal. Berarti dia meninggal pada umur 40 tahun. Kemudian apabila diperiksa pada pasal selanjutnya dalam 2 Tawarikh 22:1-2 disana dikatakan.
1Lalu penduduk Yerusalem mengangkat Ahazia, anaknya yang bungsu, menjadi raja menggantikan dia, karena semua anaknya yang lebih tua umurnya telah dibunuh oleh gerombolan yang datang ke tempat perkemahan bersama-sama orang-orang Arab. Dengan demikian Ahazia, anak Yoram raja Yehuda, menjadi raja.
2Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.
Pada ayat diatas dapat kita lihat, setelah Raja Yoram meninggal tahta kerajaan dipegang oleh anak bungsunya, Ahazia. Ketika itu Ahazia berumur 42 tahun. Bayangkan saat Yoram meninggal umur 40 tahun anaknya, Ahazia sudah berumur 42 tahun. Seorang anak lebih tua dua tahun dari ayahnya. Apa itu mungkin? Sebuah kesalahan matematis.
Selanjutnya jika kita buka kitab Kejadian 1:5 disana dikatakan.
Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.
Menurut ayat diatas, pada hari pertama penciptaan alam semesta siang dan malam telah ada. Kemudian pada kitab yang sama bab yang sama ayat 16-19 disebutkan.
16Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
17Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
18dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
19Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.
Pada ayat diatas dijelaskan bahwa matahari diciptakan pada hari keempat. Pada hari pertama siang dan malam telah ada, sementara matahari baru diciptakan pada hari keempat. Bagaimana ada siang dan malam tanpa cahaya matahari? Suatu kesalahan ilmiah.
Lebih jauh lagi jika kita buka 2 Raja-Raja 8:26.
Ia berumur dua puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri raja Israel.
Di ayat tersebut dinyatakan bahwa Ahazia anak Yoram berumur 22 tahun ketika menjadi raja. Pada 2 Tawarikh 22:2 dikatakan.
2Ahazia berumur empat puluh dua tahun pada waktu ia menjadi raja dan setahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Atalya, cucu Omri.
Pada satu tempat Ahazia menjadi raja umur 22 tahun di tempat lain 42 tahun. 22 atau 42? Pertentangan ayat yang jelas.
Al-Kitab ummat Kristen tersebut tidak bisa dikatakan firman Allah seratus persen. Di dalamnya mungkin ada kata-kata yang bisa dianggap perkataan Allah, tapi disana juga ada perkataan para Nabi dan ahli sejarah. Sebagai contok saya berikan. Dalam Kitab Keluaran 10:21 dikatakan.
Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba gelap itu."
Ayat diatas adalah perkataan Allah pada Musa. Seterusnya jika dibuka Injil Matius 9:15.
Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
Ayat diatas adalah perkataan Yesus, nabi Allah. Kemudian dalam Markus 16:9 disebutkan.
Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
Ayat diatas adalah perkataan ahli sejarah. Jadi al-Kitab tidak sepenuhnya bisa dikatakan firman Allah.
Lebih jauh lagi jika kita bandingkan antara kitab terjemahan lama tahun 1958 dengan terjemahan baru yang dipakai sekarang, terjemahan tahun 1972. Maka disana akan kita jumpai banyak perobahan. Di terjemahan lama ada nabi bernama Ibrahim sedang terjemahan baru namanya menjadi Abraham. Di terjemahan lama ada bernama Yahya, sedang diterjemahan baru namanya menjadi Yohanes. Diterjemahan lama nama ibu Yesus adalah Maryam, sedang diterjemahan baru menjadi Maria.
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat al-Kitab tidak dapat dipercaya. Dengan alasan-alasan itulah yang membuat ummat islam tidak meyakini kitab suci ummat Kristen tersebut. Jadi Taurat dan Injil yang dinyatakan dalam al-Qur'an bukanlah yang dipakai ummat Kristen sekarang.

17.    TAURAT DAN INJIL INDUK DARI ALQURAN
"Dan sesungguhnya Alquran itu salam induk Alkitab, disisi Kami adalah tinggi dan penuh hikmat." "Wa innahu fii ummil kitaabi ladainaa la 'aliyyuna hakiim." (Qs. 43 Az Zukhruf 4)
Yang perlu digaris bawahi dalam ayat diatas adalah kata al-Kitab. Saudara Vivaldi menganggap itu adalah Taurat dan Injil yang katanya tergabung dalam al-Kitab mereka. Beliau salah, al-Kitab pada ayat diatas adalah al-Kitab induk yang ada di Lauh Mahfuzh.

18.    ISA AS. BERKUASA/TERKEMUKA DIDUNIA DAN DI AKHIRAT
"Ketika malaikat berkata, hai Maryam sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan Kalimah dari padaNya namanya Almasih putra Maryam, terkemuka didunia dan diakhirat dan orang yang paling dekat pada Allah." "Idz qalatil malaikatu yaa Maryama innallaaha yubasyiruki bi kalimatim minhus muhul masihu 'isabnu Maryama wajihan fissun-yaa wal akhirati wa minal muqarrabin." (Qs. 3 ali Imran 45)
Pada ayat di atas hanya dikatakan terkemuka bukan berkuasa. Harap perhatikan dengan baik. Dia terkemuka itu benar. Itu adalah kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya.
Untuk point 19 dan 20, saya akan membahas hadits riwayat Bukhori Muslim yang dikemukakan saudara Vivaldi dan dugaan masalah Allah akan menipu orang-orang Muslim. Kedua point itu belum saya bahas karena tidak ada kaitannya dengan penyaliban yang kata orang Kristen ada untuk Yesus.
Saudara Vivaldi mengemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Berikut bunyi hadits tersebut.
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, dia berkata: Seakan-akan aku melihat kepada Rasulullah saw ketika beliau menceritakan salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi yang banyak itu, dia dipukul oleh kaumnya sampai berdarah-darah, disapunya darah yang mengalir di wajahnya itu lalu berdo’a: “Ya Allah, Ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tau”
Hadits di atas dibandingkan dengan Injil Lukas 23:33-34.
33Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. 34 Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.
Setelah mengutip hadits dan Lukas 23:33-34 di atas saudara Vivaldi member komentar sebagai berikut:
Terlihat bagaimana kesamaan kisah di hadis diatas dengan kisah penyaliban Yesus. Pembacaan yang obyektif jelas akan melihat kesamaan yang tidak dapat ditutup-tutupi tersebut. Sangat mungkin muslim akan menyangkal bahwa hadis diatas mengacu pada Yesus, namun siapa sebenarnya nabi yang dimaksud?
Hadis diatas membuktikan bahwa Muhammad SAW memang hanya dengar-dengaran dari cerita-cerita Yahudi dan Nasrani sehingga tidak tahu kalau yang dibicarakannya adalah Yesus saat berada dikayu salib.
Kemiripan antara Hadits dan ayat Injil di atas hanya dalam do’a untuk mengampuni kaumnya. Selain itu tidak ada. Saya berani mengatakan bahwa Nabi yang dimaksud oleh Nabi Muhammad tidak mengacu kepada Yesus yang katanya waktu ditiang salib. Saya katakan itu dengan dua alasan.
1.      Nabi yang diceritakan oleh Rasul adalah Nabi yang dipukuli oleh kaumnya sampai berdarah-darah. Sedang dalam Injil Lukas 23:33-34 tidak ada keterangan apakah Yesus dipukuli atau tidak.
2.      Rasul menceritakan bahwa setelah Nabi tersebut dipukuli dia menyapu darah yang mengalir di wajahnya. Sedang dalam Lukas 23:33-34 menyatakan bahwa Yesus disalib. Kita tau, ketika penyaliban Yesus yang kata orang Kristen ada itu kedua tangannya dipaku dan diikat di tiang salib. Jadi bagaimana munkgkin dia bisa mengusap darah di wajahnya sementara kedua tangannya dipaku dan diikat…?
Jadi jelaslah bahwa Nabi yang diceritakan oleh Rasul itu tidak mengacu kepada Yesus di tiang salib. Kalaupun yang dimaksud adalah Yesus, mungkin diwaktu yang lain. Bukan saat adanya peristiwa penyaliban.
Point selanjutnya adalah dugaan bahwa Allah akan menipu orang-orang Muslim. Yang pertama dalam point ini saudara Vivaldi mengutip sebuah hadits Rasulullah saw dalam riwatyat Imam Bukhari. (Copy Paste dari tulisan saudara Vivaldi)
Beberapa orang bertanya,“O Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami di hari kebangkitan?” Rasulullah berkata,“Apakah kalian beramai-ramai dan berdesak-desakan saat melihat matahari tidak tertutup awan?” Mereka menjawab,“Tidak” Rasulullah berkata,“Apakah kalian beramai-ramai dan berdesak-desakan saat melihat bulan purnama tidak tertutup awan?” Mereka menjawab,“Tidak” Rasulullah berkata,“Demikian pula kalian akan melihat Tuhan di hari kebangkitan. Aulloh akan mengumpulkan kalian semua dan berkata.‘Siapapun yang menyembah sesuatu akan mengikuti apa yang dia sembah ……..………. Aulloh akan datang kepada mereka dalam bentuk yang tidak pernah mereka kenal dan akan berkata,‘Akulah tuhanmu’. Mereka akan berkata,‘Kami berlindung dengan Aulloh terhadap kamu. Ini adalah kediaman kami dan kami tidak akan mengikuti kamu hingga Tuhan kami datang, dan ketika Tuhan kami datang, kami akan mengenalNya’ kemudian aulloh akan datang dalam wujud yang mereka kenal dan berkata,‘Akulah Tuhanmu’ Mereka akan berkata,‘Sunguh, Engkaulah Tuhan kami’, dan mereka akan mengikutiNya ….
Masalah yang diangkat oleh saudara Vivaldi dalam hadits diatas adalah kedatangan Allah kepada orang Muslim dalam dua wujud yang berbeda. Kedatangan pertama dalam bentuk yang tidak dikenal dan kedatangan kedua dalam wujud yang dikenal. Dengan sebab itu menurut beliau Allah menipu orang Muslim. Terus terang, dalam hadits diatas saya tidak sedikitpun menjumpai adanya penipuan.
Jika misalnya saya meninggalkan anak-anak saya di kampung selama sepuluh tahun. Kemudian saya datang kepada mereka kembali dalam satu wujud yang tidak mereka kenal. Katakanlah saya datang dengan penampilan memakai jenggot tebal, kumis, jambang dan rambut yang panjang. Saya datang kepada mereka dan menyatakan bahwa saya adalah ayah mereka. Lalu mereka tidak percaya karena mereka tidak mengenali saya. Kemudian saya pergi ke salon memangkas rambut, mencukur jenggot, jambang dan semuanya. Setelah itu saya datang lagi dan mereka telah mengenali saya. Apa itu berarti saya menipu mereka…? Jawabannya tentu tidak. Begitu juga dengan hadits diatas. Allah sedikitpun tidak menipu orang-orang Muslim. Harap pahami dulu apa defenisi menipu.
Hal kedua dalam point ini yang dikutip oleh saudara Vivaldi adalah al-Qurân surat al-Anfal 8:43.
(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah Telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala isi hati.
Setelah mengutip ayat tersebut saudara Vivaldi memberi komentar sbb:
QS 8 : 43 berbicara tentang perang Badar. Al Qur’an mencatat perang Badar dimana Aulloh SWT melakukan “penyesatan” lewat mimpi Muhammad demi hendak menaikkan moral perang diantara pejuang Muslim. Lewat mimpi, Aulloh memperlihatkan kepada Muhammad bahwa musuh yang akan dihadapi hanyalah sejumlah kecil, padahal sebenarnya bohong.
Apakah aulloh tidak mampu menolong mahluknya dengan banyak cara lain yang tidak usah melibatkan penipuan dan penyesatan manusia. Karena aulloh swt mampu menipu muslim, jadi tidak ada jaminan sama sekali bahwa saat ini aulloh tidak menipu muslim dengan cerita penyaliban dalam al-qur’an yang jelas-jelas kacau balau.
Perlu digaris bawahi. Pada al-Qurân surat al-Anfal 8:43 diatas, Allah hanya memperlihatkan tentara Musyrik dalam jumlah yang sedikit dalam mimpi Nabi Muhammad. Hanya memperlihatkan dan tidak mengatakan mereka sedikit.
Jika misalnya saya punya seorang anak, suatu hari dia minta uang kepada saya. Saya kebetulan baru menerima gaji belasan juta. Dari kantong saya saya hanya mengeluarkan selembar uang ketika anak saya tersebut meminta. Sedang puluhan lembar lainnya saya simpan di kantong lain. Saya takut anak saya akan minta uang banyak jika saya perlihatkan semuanya. Itu akan bisa membuat dia jadi boros. Apa saya dikatakan berbohong dengan melakukan hal itu…? Tidak, saya tidak berbohong. Sebab saya hanya memperlihatkan selembar uang kepada dia dan tidak mengatakan bahwa uang saya cuma itu.
Dalam ayat di atas Allah juga hanya memperlihatkan orang Musyrik dalam mimpi Muhammad dalam jumlah yang sedikit. Dan Allah tidak mengatakan mereka sedikit. Jadi Allah tidak membohongi orang-orang Muslim. Namun justru memberi semangat buat mereka. Dikatakan Allah menipu mereka…? Tidak juga, kalau seandainya Allah menipu mereka tentu mereka akan mendapat kekalahan dalam peperangan. Namun kenyataannya tidak demikian.
Saudara Vivaldi bertanya, Apakah Allah tidak mampu menolong makhluk-Nya dengan cara lain…? Saya rasa saudara Vivaldi tidak tau sejarah perang Badar. Jumlah orang-orang Musyrik yang diperlihatkan dalam mimpi Nabi Muhammad saw adalah awal dari pertolongan Allah swt. Jika anda melangkah satu langkah lagi dari ayat di atas, pada ayat 44. Disana Allah mengatakan bahwa Dia secara langsung tanpa melalui mimpi memperlihatkan pasukan Musyrikin dalam pandangan pasukan Muslimin dalam jumlah yang sedikit. Demikian juga pasukan Muslimin dalam pandangan pasukan Musyrikin, juga dalam jumlah yang sedikit. Kenapa Allah melakukan itu…? Jawabannya ada pada akhir ayat. Karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Yaitu kemenangan kaum Muslimin.
Perang Badar terjadi pada tahun ke-2 H, sekitar tahun 624 M. Jumlah pasukan Muslimin pada peperangan ini hanya 313 sampai 317 orang dengan persenjataan yang kurang. Sementara pasukan Musyrikin berjumlah 1000 personil dengan persenjataan yang lengkap dan siap tempur. Apa itu seimbang…? Pada akhir peperangan kemenangan ada di pihak kaum Muslimin. Kaum Musyrikin terbunuh 70 orang dan 70 lainnya tertawan. Sementara orang-orang Muslim hanya meninggal sebagai Syuhada’ sebanyak 14 orang.
Bayangkan, pasukan Muslimin dapat mengalahkan pasukan Musrikin yang jumlahnya lebih tiga kali lipat dari mereka. Apa saudara Vivaldi fikir ini bukan pertolongan Allah…? Inilah urusan yang dilakukan Allah dalam surat al-Anfal 8:44 yaitu membuat kemenangan ada di pihak Muslimin.
Saya harap saya sudah menjawab semua penafsiran yang salah dari saudara Vivaldi tentang al-Qurân. Semoga bermanfaat buat kita semua. Wallahu A’lam.
Trim’s.

1 komentar: